PENGAYUH BECAK LULUS S1 DENGAN IPK 3,01

Sehari-hari Wawan Kurniawan (28) hanyalah seorang pengayuh becak. Namun siapa sangka pria yang biasa mangkal di depan kantor pos Purworejo itu adalah seorang mahasiswa berprestasi. Sabtu (8/11), dia diwisuda dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,01. Berikut laporannya.

Meski profesinya hanya tukang becak dengan pendapatan pas-pasan dan bahkan sehari-hari penghasilannya sering tidak bisa dipastikan, Wawan Kurniawan tetap punya prinsip dan slogan dalam hidupnya. ’’Optimistis dan jangan pernah menyerah tanpa usaha,’’ tandas warga RT 3 RW 8, Baledono Krajan, Purworejo itu.
pengayuh-becak-lulus-s1-dengan-ipk-3012
Ya, dengan semangat itulah, dia berhasil meraih cita-citanya menjadi mahasiswa yang berprestasi. Menurut dia, pengayuh becak hanyalah profesi. Dan, dia mengaku tidak malu menyandang profesi itu. Apalagi sejak kelas satu SMA dia memang sudah mengayuh becak.

Setiap hari, pukul 05.00-pukul 17.00, pria yang lahir di Purworejo 24 Desember 1980 itu mangkal di depan kantor pos Purworejo. Sabtu (8/11), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini diwisuda dengan IPK 3,01. IPK tersebut tertinggi di fakultasnya.

Kemarin, dia sibuk mengurus ijazahnya karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS di Pemkab Purworejo. Meski ada keinginan menjadi pegawai negeri, dia tetap masih punya niat melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta.
Bagaimana dengan becaknya? ’’Ya, itu tetap akan saya pertahankan. Saya akan jadi pengayuh becak di Yogya,’’ katanya.

Bagi dia, becak yang dipakai saat ini punya nilai sejarah tersendiri. Becak itu semula adalah milik kakaknya. Namun becak itu kemudian menganggur karena kakaknya masuk pesantren. Sejak tahun 1997, becak dia pakai untuk mencari nafkah. Tempat mangkal favorit adalah di depan kantor pos Purworejo.

Dia mengungkapkan, penghasilan sebagai tukang becak ada pasang surutnya. Terkadang dalam sehari dia tidak mendapat uang sama sekali. Akan tetapi menjelang Lebaran lalu, Wawan pernah mendapat uang Rp 100 ribu/hari.
Hasil jerih payahnya itu, sebagian dimanfaatkan untuk membayar uang kuliah, meski dia sadar seringkali penghasilannya masih kurang untuk biaya di perguruan tinggi. Seingat dia, pada tahun pertama membayar Rp 2 juta. Selanjutnya untuk biaya per semester Rp 750 ribu. ’’Ya, kalau kurang, saya pinjam teman,’’ tuturnya.

Giat Belajar
Untuk bisa belajar sambil bekerja, dia berusaha membagi waktu. Bila ada jam kuliah, dia berusaha masuk. Setelah itu kembali ke pangkalan becak. Kapan belajar? Menurut Wawan, belajar biasa dilakukan pada malam hari. Dia juga biasa membawa buku-buku kuliah di laci becak. Bila sedang tidak ada penumpang, dia memanfaatkannya untuk belajar. ’’Dulu pas ramai judi togel saya pernah dikira sedang meramal nomor. Padahal sedang belajar,’’ ujarnya.
Selama menjadi tukang becak, kata dia, tentu ada suka dan dukanya. Dia sering mengantar teman sekampus atau dosen, namun Wawan mengaku tidak malu melakukannya.

Dia juga pernah diberi uang Rp 170 ribu dari seorang warga Ngombol, Purworejo yang kini di Jakarta. Mulanya orang yang mengaku pensiunan polisi itu minta diantar dari Hotel Bagelen ke masjid di alun-alun. Ketika penumpang bertanya status dan pendidikan, dia jawab masih kuliah di UMP.

Mungkin karena merasa kasihan, penumpang menyodorkan uang Rp 20 ribu. Keesokan harinya, dia ngobrol lagi dengan penumpang itu. Wawan pun diberi uang Rp 50 ribu untuk biaya kuliah. Beberapa saat setelah itu, orang yang sama menyempatkan datang ke rumahnya dan memberikan uang Rp 100 ribu.

Tentang dukanya, menurut Wawan, dirinya pernah diminta mengantar seorang wanita ke Pasar Baledono, Purworejo. Sesampai di tempat tujuan, penumpang itu turun dan dia diminta menunggu. ’’Eh ternyata tidak nongol lagi,’’ ungkap anak ke-4 pasangan Ambari dan Chamidah itu.

Meski lahir dari keluarga kurang mampu, karena ayah dan ibunya hanya berjualan es tape di alun-alun dan di rumah, semangat Wawan perlu ditiru. (Eko Priyono-46)

Sumber: SuaraMerdeka

8 Responses

  1. IPK tinggi, cerdas, S1, dll, tidak menjamin seseorang akan bisa sukses (finansial). Banyak juga kita lihat para pengusaha yang kaya tapi tidak S1. Lihat saja Andrie Wongso, SD aja gak tamat.

    Keseringan kita lihat, orang yang pintar, IPK >3, kerja sebagai karyawan, kerja untuk orang yang bahkan pendidikannya lebih rendah daripada dia. Nah lho…..

    http://ryanis.wordpress.com/2008/07/24/jika-kuadran-employee-sebagai-sumber-penghasilan/

  2. Mantap……
    ya memang beginilah cara berfikir kita
    terlalu banyak tuntutan jika mempunyai sesuatu yang orang lain katakan sebagai sesuatu yang “tinggi” (ijasah).
    kita sekolah hanya untuk satu tujuan “pekerjaan”, maka ijasah dapat dibeli, guru dapat dikontrak, nilai bisa ditawar.

    Kurniawan memberi contoh yang baik pada kita. rata-rata anak indonesia yang berijasah sma akan gengsi untuk melakukan pekerjaan seperti yang dikerjakan Kurniawan.

    Kurniawan tidak menonjolkan kecerdasannya, tapi ia perlihatkan karakter yang sabar, teliti, nerimo, dan prihatin.

    Bagi yang lulus S1 dengan biaya yang gelamor tapi nilainya njeblok jangan iri dengan Kurniawan.

    Orang-orang yang tidak terima dengan perolahan Kurniawan adalah mereka yang merasa tersaingi, karena mereka bisa beli ijasah dengan nilai berapa pun yang ia pinta

  3. waduh, bener-bener semangat pejuang yang mantab banget dan perlu ditiru bnyak orang. kalau si mas Wawan bisa pasti kita juga bisa…maju terus mas Wawan. @yg empunya blog..siiip inspiratif bener postingannya..thx jg udah mampir ya?

  4. Saya mengucap salut buat Wawan Kurniawan. Semoga jerih payahmu segera tertebus dg bekal ijasah S1. Kalau PNS gagal masih banyak jalan menuju sukses. Diklat keprihatinan yang telah anda jalani, lebih dari cukup untuk menyongsong masa depan gemilang.

    Kau memang cerdas, cerdik dan pantang menyerah. Dapat menjadi teladan bagi anak-anak bangsa yang lain, mengedepankan pendidikan tanpa melihat latar belakang ekonomi keluarga.Cukup berbekal sehat jasmani dan rohani serta kemauan bekerja/mencari uang secara halal.

    Terus….., ya sekolah….sekolah…..dan kuliah. Tamat deh kayak Mas Wawan Kurniawan itu.

    Buat Kang Rahmat Alams selamat berkreativitas tiada akhir.

  5. subhanallah,
    salut deh.
    semoga sukses untuk wawan.

  6. subhanallah
    salut deh,
    semoga sukses
    otimislah

  7. subhanallah

  8. Alhamdulillah.. ternyata kita masih punya “anak bangsa” yang luhur budi pekertinya, pandai, sederhana, baik hati dan tidak sombong.. meski tukang becak tetapi berakhlak mulia.. daripada tawuran dan demo yg gak jelas tujuannya, lebih baik narik becak + belajar ya mas.. anda sebagai generasi muda yang bertanggungjawab, anda pantas menjadi “tauladan” bagi putra – putri ibu pertiwi.. don’t look at the book from cover.. be your self.. good luck and success.. GOD bless you..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.