Sejujurnya, kecuali bagian sampulnya, sehuruf pun aku belum pernah mbaca novel “Laskar Pelangi” yang konon fenomenal itu; cuma tahu garis besar ceritanya. Bukan apa-apa, sih. Bukan nggak tertarik untuk beli atau bahkan nggak punya duit untuk beli buku itu. Nggak mungkin! Sama sekali nggak mungkin. Anak muda kaya-raya seperti aku manalah mungkin sampai nggak punya duit buat beli buku yang diprediksi bakal jadi buku legendaris di Endonesa itu, ya kan?
Semuanya cuma karena prinsip ekonomi aja. Teman-temanku sudah pada punya. Dan ditambah alasan demi keseimbangan alam (memberi dan menerima, maksudnya), maka aku memutuskan daripada beli mendingan pinjem ke mereka. Soale nggak enak juga kalo aku terus-terusan yang ngumpulin pahala dengan meminjamkan buku-bukuku (yang jarang kembali) kepada mereka. Sekali-sekali biarlah mereka memperoleh pahala dengan berbaik-hati gantian meminjamkan buku-bukunya ke aku. Jadi keputusanku untuk nggak beli buku “Laskar Pelangi” itu sungguh mati karena aku ini baik hati, berniat membiarkan manusia lain memperoleh kesempatan meraih pahala dengan perantaraanku, hohoho.
Tapi sampai sekarang ternyata aku belum juga kesampaian minjem buku itu. Bingung, soale. Bingung aku enaknya minjem ke siapa. Terlalu banyak manusia baik yang harus kupertimbangkan kepada siapa kesempatan memperoleh pahala itu mesti kuberikan. Dan akhirnya aku malah keduluan nonton filmnya ketimbang baca bukunya.
Hasilnya, meskipun aku belum pernah mbaca bukunya, aku bisa menikmati filmnya. Malahan aku jadi bisa menikmati film itu secara utuh tanpa harus membanding-bandingkan dengan isi novelnya sendiri.
Maka penilaianku tentang filmnya cukuplah 1 kata: bagus! Jujur kukatakan filmnya bagus (karena kata “fantastis” kupikir bakallah terlalu bombastis). Baru beberapa menit film itu dimulai mataku sudah dipaksa berkaca-kaca, mulai dari adegan Bu Muslimah harus menunggu 1 orang homo sapiens lagi yang bakal menjadi murid di sekolahnya. Kalo kurang seorang dari jumlah minimal 10, sekolahan reyot itu nggak bakal pernah bisa dibuka.
Akting anak-anaknya di film itu memang masih biasa aja. Tentu saja belum bisa disamakan dengan aktingnya Oom Ledger sebagai Joker di “Batman: The Dark Knight”. Tapi karena jalan ceritanya memang bagus, akting yang menurutku masih biasa-biasa aja itu jadi tertutupi. Toh juga nggak bisa dibilang nggak bagus, kok.
Aku juga masih tetap berkaca-kaca dengan semangat mengajarnya Bu Muslimah yang bilang kalo cita-citanya dia bukanlah menjadi seorang saudagar, tapi menjadi seorang guru. Mungkin aku bakal dibilang terlalu cengeng, ngeliat adegan kayak gitu aja hampir nangis. Tapi mungkin benar, aku memang jadi cengeng gara-gara aku sendiri juga punya cita-cita jadi guru. Ah, sentimentil, memang.
Dan akhirnya aku memang jadi keluar airmata beneran pas adegan cerdas-cermat. Hidungku sentrap-sentrup waktu Lintang secara beruntun menjawab soal hitung-hitungan dengan kecepatan yang menurutku cuma bisa dimiliki oleh seorang jenius seperti aku (dulu waktu belum goblok).
Aku sendiri nggak tau pasti kenapa airmataku justru akhirnya benar-benar keluar pas adegan itu. Orang lain mungkin bakal komentar kalo adegan itu bukanlah adegan yang tepat untuk mengeluarkan airmata. Setelahnya masih ada adegan yang mungkin lebih dramatis. Satu-satunya jawaban yang mungkin bisa mendekati: karena – ya itu tadi – aku sendiri bercita-cita menjadi seorang guru. Dan apalagi yang paling membanggakan buat seorang guru, selain menyaksikan muridnya mampu melakukan sesuatu lebih dari yang bisa diharapkannya, kan?
Jadi tontonlah film ini, Nduk. Maka kamu bakal mengerti kenapa aku sangat ingin menjadi seorang guru. Ah, siyal! Aku jadi berkaca-kaca lagi ini…
