NENEK LUMPUH, CUCU GANTUNG DIRI

NENEK LUMPUH, CUCU GANTUNG DIRI

Di siang itu mentari terik menyinari padukuhan kami yaitu Padukuhan Karangbenda  RT 04 / 01 Desa Kedungoleng, Kecamatan Paguyangan, Brebes. Hari Rabu tanggal 4 April 2007  jam sebelas siang kampung kami digemparkan oleh adanya kasus gantung diri yang dilakukan oleh gadis belia berumur 14 tahun, Siti Khotimah. Orang pertama yang menjumpai kejadian tersebut adalah Kholisoh, Budhe Korban. Saat itu Kholisoh hendak mencari Khotimah dengan maksud untuk memberitahu dia (korban)  bahwa piringnya (grabhan yang sedang dicuci di sumur) berantakan karena diacak-acak oleh ayam piaraanya. Kholisoh memanggil-mangil beberapa kali namun tidak ada jawaban, saat itu belum ada kecurigaan apa-apa, lalu Kholisoh meneruskan memanggil Khotimah, karena tak ada jwaban juga akhirnya Kholisoh memutuskan untuk mengecek rumahnya, rumah Kholisoh dengan Siti Khotimah ini berdampingan, dan satu sumur di belakang rumah yang digunakn bersama-sama. Sesampai di rumah, begitu membuka pintu Kholisoh menyaksikan Khotimah sudah tergantung di pintu bagian depan rumahnya. Saat itu juga Kholisoh berteriak histeris, sehingga mengundang perhatian tetangga.

Kronologis Kejadian

Beberapa jam sebelum kejadian sekitar pukul 8 pagi Korban menyuruh temannya yang berumur 9 tahun ke warung untuk membeli racun tikus. Kebetulan di warung sedang kehabisan racun tikus, lalu temannya ini bilang ke korban bahwa racun tikusny habis. Kemudian korban meneruskan aktifitasnya untuk bermain bersama teman-temannya yang rata-rata umurnya dibawahnya. Siang hari menjelang kejadian terlihat korban membereskan piring lalu membawanya ke sumur hendak dicuci, namun sesampainya di sumur grabahan itu ditinggalkan begitu saja, Korban lalu meneruskan kembali bermain bersama teman-temannya Irvan (8 tahun), Deput (9 tahun), Agus (6 tahun), dan beberapa teman lainnya yang umurnya jauh dibawah umur korban. Ditengah asiknya bermain bersama teman-temannya si Korban ini pamitan “aku pan golet tambang disit yah bocahan, kanggo njiret ramban” (aku mau mencari tali dulu yah teman-teman, untuk mengikat ramban [pakan ternak kambing yang terdiri dari dedaunan kasar]), padahal saat itu korban tidak mempunyai seekor ternak pun. Teman-teman korban hanya meng-iya-kan pamitan korban. Setelah beberapa menit kemudian korban tidak muncul juga yang katanya pergi sebentar, lalu teman-temanya mengintip dari balik pagar rumah yang terbuat dari bambu. Irvan melihat korban bergelantungan di pintu rumahnya, Irvan bilang ke taman-temannya “hai bocahan, si ho tah lagi yun-yunan kayonge penak men, sikile njot-njotan, pada melu karo si ho yuh” (hai teman-teman Khotimah sedang asik main ayun-ayunan sepertinya enak sekali, kakinya bergelantungan ke bawah, ikut sama Khotimah yuk). Kejadian yang sebenarnya adalah Khotimah bukan ayun-ayunan tapi dia sudah menggantungnkan diri dengan tali yang dibuatnya. Saat Irvan bilang kakinya sedang  ayun-ayunan, saat itu adalah korban sedang sekarat. Beberapa saat kemudian korban terdiam di talinya, lalu teman-temannya membuka pintu yang dari tadi ditutup oleh korban. Setelah teman-temannya masuk dan mengetahui korban menggantung di tali, salah satu dari mereka ada yang berkata “ ho gantian lah ho” (Khotimah gantian dong). Namun Khotimah tak menjawab sepatah katapun, ya karena dia memang sudah tidak bernyawa lagi. Akhirnya teman-temanya ini pun pulang, dengan berpamitan sama korban yang sudah tidak bernyawa. “kho..aku pan balik ya kho…” (kho aku mau pulang ya). Adalah agus teman korban yang berusia sekitar 6 tahun, dia berbeda dengan teman-temannya, ia speti tahu apa yang dilakukan oleh korban. Sesampainya di rumah, ia berbisik-bisik dengan ibunya “mak… sikho kendat mak” (bu Khotimah kendat [terjerat tali di leher], bu). Ibunya agus tidak percaya, bahkan mengangap si Agus ini lagi bercanda. Namun beberapa saat kemudian terdengar teriakan dari rumah korban. Kemudian tetangga berbondong-bondong mendatangi rumah korban. Ternyata betul kata Agus, Khotimah kendat [gantung diri]. Kho adalah singkatan dari Khotimah yang akrab dipanggil sikho.

Dugaan Sementara Penyebab Gantung Diri

Korban adalah anak pertama dari sepasang suami isteri yang sudah lama bercerai. Ayahnya meinggal setelah beberapa tahun sejak  perceraian dengan ibunya.  Karena tak tahan menanggung beban ekonomi lalu ibunya merantau ke Jakarta dengan meninggalkan Khotimah di rumah dengan menitipkannya ke neneknya dan Budenya, walau pun memang sebelum menikah dengan ayah korban, memang sudah pernah merantau ke Jakarta. Khotimah tinggal bersama neneknya sejak usia balita dibawah pengawasan budenya yang kebetulan rumahnya berdampingan. Neneknya terkenal orang yang cerewet, gampang ngomel, tak peduli dengan anak kecil, kalau Khotimah salah pasti ngomel, dan memarahinya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke rumah tetangganya. Sehingga hampir setiap hari Khotimah dimarahi oleh neneknya. Belakangan ini diketahui neneknya lumpuh, neneknya  tidak bisa melakukan aktifitas apa-apa, mandi dan buang air besar atau pun kecil dilakukan di dalam rumah. Dalam rumah ini Khotimah yang baru berumur kurang dari 14 tahun, sudah harus bisa bertindak layaknya perawat orang jompo, sendirian tanpa bantuan siapapun dan harus dilakukan setiap hari. Pagi hari ia menyaipak air untuk memandikan neneknya, setelah air siap ia memapah neneknya untuk mandi,  setelah itu mengumpulkan pakaian kotor neneknya lalu mencucinya. Sebelum mandi biasanya neneknya minta buang air , ya harus dilakukan di dalam rumah, dan ini merupakan tugas Khotimah untuk membersihkannya. Usai memandikan neneknya ia harus menyiapkan sarapan. Setelah semuanya selesai ia bukan mendapatkan ucapan terima kasih, malah mengomel jika ada kesalahan yang dilakukan oleh Khotimah ataupun kurang puas dengan pekerjaan Khotimah yang memang masih belum seharusnya melakukan pekerjaan itu. Ketika waktunya bermain pun ia tak tenang karena setiap saat neneknya memanggilnya meminta tolong, jika tidak segera datang maka bersiap-siaplah untuk dimarahi. Sehingga praktis dalam 24 jam Khotimah harus siaga untuk neneknya, yang konon cerewet itu. Dari keadaan ini lah orang-orang dekat korban mengatakan  bahwa ia melalukan ini (gantung diri), karena tekanan batin dan kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Budhe dan Padhe korban juga menyatakn demikian. Ini dibenarkan oleh dokter yang saat kejadian sengaja diundang ke TKP bersama polisi.

Mendapatkan Metode/Cara Gantung Diri  dari Sinetron

Malam hari (3 April 2007) korban nonton acara televisi bersama budhe. Acara yang ia tonton adalah sinetron yang berjudul “Mati Bersama anak-anakku”, sinetron ini mengisahkan seorang ibu yang melakukan bunuh diri bersama anak-anaknya, ada yang dengan menggunakan racun tikus untuk mengahiri hidupnya dan ada yang menggunakan tali untuk menggantung diri. Khotimah terlihat asik sekali menyaksikan acara ini sehingga saat yang lain sudah tertidur, ia terus mengikuti sampai sinetron ini selesai. Belum ada fakta yang menyatakan bahwa dia mendapatkan metode gantung diri dari acara televisi, namun bila dilihat dari keeadaan desa kami yang begitu sulit untuk mengakses informasi (termasuk sinteron), maka televisi adalah satu-satunya sumber untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Khotimah orang yang pendiam, dia orang yang gampang minder, tidak percaya diri, dia jarang bergaul dengan teman sebayanya, tepi dia lebih suka bergaul dengan teman-teman di bawah usianya, entah karena apa. Sekedar catatan, anak-anak di desa kami sangat mempercayai tayangan-tayangn televisi, terutama sinetron yang katanya religi.

Bunga Mawar dan Surat Terakhir yang Penuh Bunga

Sehari sebelum kejadian Khotimah menanam beberapa batang bunga di halaman depan rumahnya. Bunga yang ia tanam adalah bunga mawar. Kemudian di samping rumah ia mengumpulkan bunga dan menaburkanya di satu tempat, lalu kumpulan bunga itu diberi pagara keliling, layaknya sebuah makam. Tiga hari kemudian ditemukan surat didalam tumpukan buku-buku miliknya di dalam laci meja. Surat ini dipenuhi gambar bunga. Bunyi suratnya kurang lebih seperti berikut ini : 

Buat keluargaku Elavyu tu

Saya minta maf

Bude dan papade saya minta maf atas kesalahan saya

Juga mama biar bagaemanapun mama adalah mama saya orang yang telah melahirkan saya

Saya minta dimafkan semua kesalahan saya

Ini surat terahir  HotImah  

Elavyu tu 

Surat ini saya kutip sesuai ejaan aslinya, dan isinya kurang lebih seperti itu. Dalam kutipan ini tidak saya sertakan gambar bunga yang banyak sekali seperti surat aslinya. Dan dalam kutiapan ini saya tidak menyertakan tanda tangan Khotimah. Jika diperhatikan dalam surat itu, tidak ada satu kata pun yang menyingung neneknya, entah disengaja atau lupa saya kurang tahu. Saya tertarik untuk mengambil gambar bunga tanaman terakhir dan surat terakhir, namun pihak keluarga tidak mengijinkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.