PENGAMEN
Perjalanan Asyik atau Menyebalkan Ditemani Pengamen

Belum lima menit saya duduk di atas angkot jurusan Depok-TMII terlihat seorang anak kecil masuk ke mobil yang saya tumpangi. Dia langsung membagikan amplop kecil yang sudah lusuh, bertuliskan kelimat-kalimat tertentu dan berlipat-lipat, sambil mengucapkan kata “permisi”di menyodorkannya kepada setiap penumpang. Setelah amplop dibagikan kemudian dia bergelantungan di pintu mobil sambil bernyanyi diiringi alat musik ecek-ecek yang terbuat dari tutup botol bekas. Usai bernyanyi dia menarik kembali amplop yang tadi telah dibagikan, kemudian dia turun di Ranco-Tanjungbarat Jakarta Selatan dan kedudukannya digantikan oleh pengamen cilik yang lain yang naik ketika dia turun. Pengamen cilik ini tidak menggunakan alat musik ecek-ecek tapi menggunakan gitar kecil, tanpa basa-basi dia langsung menyanyi dengan petikan gitar yang sangat sederhana. Sampai di Pasar Rebo dia turun, di sini sudah ada rekannya yang telah menunggu giliran mengamen, saya tidak tahu pengamen yang ketiga ini mau manyanyikan lagu apa karena saya harus turun juga disini untuk naik mobil jurusan berikutnya. Sepuluh menit kemudian saya naik lagi Mobil Patas Mayasari Bakti Jurusan Kampung Rambutan – Tanjung Priok. Di atas mobil ini ternyata sudah ada seorang ibu muda menggendong Tape Recorder bersama seorang anak kecil yang sedang berkaraoke.
Bang, sms siapa ini bang/Bang pesannya pakai sayang-sayang/Bang tolong jawab tanya ku abang/Bang kalau masih sayang/
Begitulah kira-kira lirik lagu yang dinyanyikan oleh sepasang ibu dan anak ini. Ya, dia ternyata pengamen di mobil yang sedang saya tumpangi ini. Mobil ini berjalan sangat lambat sebelum melaju di jalan tol. Hingga saya sampai di Terminal Tanjung Priok kurang lebih ada lima orang pengamen yang silih berganti di Mobil yang saya tumpangi dari Pasar Rebo. Dari Terminal Tanung Priok saya harus melaju lagi ke Cilincing yang harus ditempuh dengan angkot pula. Kali ini saya naik Metromini. Disini pun tak sepi dari pengamen. Ada empat pengamen selama saya berada di Metromini jurusan Tanjung Priok – Cilincing. Jadi, total pengamen yang menemani perjalanan saya dari Lenteng Agung sampai dengan Cilincing ada 12 pengamen, dengan berbagai gaya mengemennya.
Gaya / Corak pengamen
- Gaya Vokalthok (Gaya Ngamen Tanpa Musik)
Pernahkah anda mendengar alunan merdu ayat-ayat Al-Quran ketika anda berada di angkutan umum tapi alunan itu adalah alunan asli suara manusia bukan rekaman kaset? Ya. Pernah. Itu adalah suara pengamen. Rupanya pengamen ini sudah bosan dengan gaya ngamen yang itu-itu saja. Akhirnya dia nekat mengamen dengan cara mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran layaknya serang Qiro yang sedang menunggu datangnya waktu sholat di Masjid sambil membaca Quran. Mungkin anda tidak percaya dengan Gaya Ngamen yang satu ini. Saya juga mungkin tidak akan percaya kalau saya tidak melihatnya sendiri. Tapi ini benar-benar terjadi, saya melihatnya/menyaksikannya di daerah Kelapa Gading tepatnya ketika saya naik angkot Kowanbisata nomor 511 Jurusan Depok-Pulodagung.
- Gaya Phokamhe-amhe (Gaya ngamen dengan diiringi tepuk tangan)
Gaya ini mirip dengan gaya Vokalthok, hanya saja agar lebih rame sedikit si pengamen mengiringinya dengan tepuk tangan. Nyanyian yang dilantunkan pun asbun (asal bunyi) ada yang menyanyikan lagu anak-anak misalnya balonku, ada juga yang menyanyikan senandung rohani Islam misalnya Solatulloh salamullah. Gaya ngamen yang satu ini membuat audiens cepat merasa bosan sebab bukan hiburan yang didapat malah telinga mereka yang rusak karena mendengar nyanyian yang tidak berirama. Biasanya para pengamen dengan gaya ini tidak banyak yang simpatik sehingga sedikit sekali yang berpartisipasi (baca: ngasih duit).
- Gaya Regudugan (pengamen berkelompok)
Gaya ini mudah kita jumpai di Kereta Api kelas Ekonomi di Jakarta. Pengamen ini personilnya lebih dari satu orang dan banyak alat musik yang digunakan. Selain di Kereta Api Kelas Ekonomi di Jakarta pengamen gaya ini juga dapat kita jumpai di Bus Kota yang berkapasitas diatas 50 orang misalnya Mayasari Bakti, PPD, namun sekarang ada juga pengamen gaya regudugan ini yang beroperasi di bus-bus kecil seperti Metromini dan Kopaja. Di luar sarana transportasi pengamen gaya ini juga dapat kita jumpai di perkampungan/komplek, biasanya sasarannya adalah warung-warung. Akhir-akhir ini kita sering menjumpai pengamen yang berkeliling kampung dengan menggotong seperangkat alat musik lengkap dengan pengeras suara / soundsystem yang diangkut dengan gerobak, dan ada satu biduan (penyanyi wanita) yang bernyanyi sambil bergoyang layaknya di sebuah panggung hiburan.

Ciri-Ciri Gaya Regudugan
- Personilnya antara 3 sampai dengan 10 orang
- Banyak alat musik yang digunakan
- Biasanya gitar lebih dari satu unit
- Biasanya ada bagian orator dan penyanyi khusus yang tidak ikut memainkan musik
- Nampak lebih profesional
- Lebih menyerupai suasana panggung dari pada suasana pengamen
- Gaya Bebas
§ Mirip Peminta Sumbangan (biasanaya sumbangan untuk pembangunan masjid)Terkadang kita tidak bisa membedakan pengamen dengan gaya ini, misalnya seorang pengamen yang turun naik mobil dengan membawa sebuah kotak. Di bagian depan kotak itu bertuliskan “Panitia Pencari Dana Masjid ….”, “Majelis Taklim…..”, “Yayasan Yatim Piatu…..”. Menurut pengakuan seorang pencari dana dengan cara ini (saya lebih suka menyebutnya pengamen) dia mendapatkan separuh (50%) dari hasil usahanya itu. Jika murni dia ingin berpartisipasi dalam pembangunan yang diselenggarakan oleh panitia pembangunan itu maka mengapa dia harus mendapatkan bagian sebesar itu. Bukan kah dia juga harus rela mengorbankan waktu dan energi demi tercapainya/suksesnya pembangunan itu. Kalau pun dia harus mendapatkan bagian paling tidak hanya untuk transportasi dan uang makan saja. Ini jika pantia pembangunannya itu benar adanya, nah kalau panitianya itu tidak ada atau panitia pembanguna fiktif, maka pencari dana semacam ini bukan hanya pantas mendapat predikat pengamen tetapi lebih tepat jika disebut penipu. Memang ada beberapa pencari dana semacam ini yang menggunakan stempel panitia palsu, tetapi tidak semuanya menggunakan cara yang tidak terpuji ini, ada juga yang benar-benar mencari dana demi pembangunan sarana umum yang memang sangat membutuhkan bantuan dari orang lain. Selain naik turun mobil, pengamen gaya ini juga beroperasi di daerah lampu merah, dia menyodorkan kotak yang dibawanya kepada setiap mobil yang berhenti di lampu merah, sasaran utamanya adalah sopir mobil pribadi.
§ Penyair JalananDia membacakan puisi dengan judul-judul tertentu. Yang paling sering dibacakan adalah tema-tema sekitar kehidupan kaum susah yang ada korelasinya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak kamum susah. Dengan suara lantang dia membawakan puisi itu lengkap dengan mimik dan gerak tubuh yang sekiranya dapat menarik perhatian audiens. Di suatu kesempatan saya pernah menjumpai pengamen gaya ini yang sangat mengahayati tema puisi yang dibawakannya itu, sehingga dia dengan suka rela melentangkan tubuhnya di lantai dengan mulut tetap membawakan syair-syair puisi itu kemudian dia memiringkan tubuhnya, dilanjutkan merangkak dalam keadaan yang trtatih-tatih, kemudian di berjalan sempoyongan layaknya orang kelaparan, dengan suara pilu dia terus membawakan syair-syair puisi itu. Semua mata membidik kearah si penyair ini. Di penghujung syairnya di menyampaikan permohonan maaf jika audiens merasa terganggu dengan kedatangannya, kemudian dia dengan sopan tanpa pemaksaan meminta parsitisipasi para audiens. Dia mendapat banyak perhatian dari para audiens sehingga lebih dari separuh audiens yang ada di situ turut berpartisipasi. Tapi ada juga yang membuat orang sebal dengan gaya ini. Sebal bukan karena kedatangan dia tapi dengan cara dia mengamen, dia mengamen dangan gaya ini tapi tidak bermodal, puisi yang dibacakan temanya tidak jelas, tidak aga gaya seorang yang lagi membawakan puisi, teks book, pengamen tua tapi gaya anak-anak. Orang akan sangat terganggu dengan pengamen yang tidak bermodal seperti ini. Alhasil si pengamen ini hanya mendapatkan capek tanpa menghasilkan duit yang ia cari.
§ Alat musik TunggalDia hanya memaninkan alat musik, tidak bernyi, irama musiknya mengikuti nyanyian tertentu.
Teman Setia Para Pengamen Bus KotaTeman setia para pengamen bus kota adalah para pedagang asongan, ini adalah patner utamanya. Tidak ada hubungan khusus antara pengamen dan pedagang asongan, tetapi di mana ada pengamen disitu bisa dipastikan ada pedaganga asongan. Mereka seperti saudara sekat padahal bukan. Mereka bertemu di situ karena lahan kehidupannya sama tetapi cara menggarapnya berbeda, yang satu bermodalkan suara dan kemampuan bermain musik dan yang satunya lagi bermodalkan uang dan kecerdikannya dalam menjajakan dagangannya.
Etika Para PengamenDalam satu lahan mengamen dalam satu momen/kesempatan, katakanlah bus kota, idealnya hanya ada satu pengamen. Pengamen lain boleh beroperasi di tempat yang sama tapi nanti nunggu giliran. Satu kejadian yang sangat lucu dan mungkin dirasakan sebagi hari sial adalah ketika di dalam sebuah bus kota ada seorang pengamen kecil, dia datang langsung membagikan amplop dari bangku paling depan sampai paling belakang, tetapi baru sampai di bangku pertengahan, naik lagi seorang pengamen dewasa. Si pengamen dewasa ini sepertinya tidak peduli kalau di dalam bus itu sudah ada pengamen cilik. Pengamen cilik ini sudah telanjur membagikan ampolp sepertinya tidak mungkin lagi untuk menarik amplopnya sebelum dia menyanyi dan membuahkan hasil dari pembagian amplop tersebut. Akhirnya si anak kecil ini ngasih isarat kepada si pengamen dewasa dengan cara menunjuk dadanya sendiri yang mengisyaratkan bahwa saya datang duluan jadi punya kesempatan ngamen duluan. Si pengamen dewasa ini pun paham kalau si pengamen cilik ini meminta untuk menunda dulu, tapi si pengamen dewasa ini tak peduli, ia pun melanjutkan mengamen. Akhirnya terjadilah persaingan ngamen antara pengamen cilik dan pengamen dewasa. Dalam prosesnya pengamen cilik ini kalah karena hanya menggunakan alat musik ecek-ecek yang terbuat dari tutup botol bekas, sementara saingannya si pengamen dewasa menggunakan alat musik gitar yang sudah tentu suaranya lebih nyaring dari suara alat musik ecek-ecek. Namun endingnya si pengamen cilik yang menang karena para penumpang / audeins lebih bersimpatik kepada si pengamen cilik yang memang datang lebih dulu, dan sepertinya ada perasaan sebal kepada si pengamen dewasa yang terkesan tidak mau mengalah dengan anak kecil. Buktinya, para penumpang lebih banyak memberi kepada si pengamen cilik bahkan ada yang mengeluarkan uang ribuan dari pada kepada si pengamen dewasa. Kalau sudah begini kejadiannya, siapa yang bertangungjawab untuk membuat peraturan diantara para pengamen. Perlukah dibentuk TAP (tim advokasi pengamen). Ataukah perlu membentuk DPR (dewan pengamen rakyat), ataukah perlu dibuat UUP (Undang-Undang Pengamen). Ini hanya masyarakat pengamen yan tahu.
Di Mana Kita Dapat Menjumpai PengamenPaling mudah kita mendapatkan pengamen adalah di sarana transportasi umum kelas ekonomi baik itu bus dalam kota, bus antar kota antar propinsi, minibus, mikrolet, angkutan umum lainnya, mobil pribadi, atau pun kereta api kelas ekonomi. Saat ini selain di sarana transportasi, para pengamen sepertinya sudah tidak mengenal tempat lagi. Ketika kita sedang duduk di teras rumah kita sendiri pun tidak sedikit pengamen yang menyatroni kita, apa lagi bagi yang rumahnya ada warung/tokonya. Di rumah makan juga ada pengamen terutama kios-kios pinggir jalan misalnya kios pecel ayam, kios bakso, kios sate. Yang aneh adalah di tempat wisata Kebun Raya Bogor, di sini kita sedang duduk santai pun ada yang mendatangi kita dengan bertepuk tangan sambil bernyanyi dan kemudian meminta uang ke kita, lebih menyebalkan lagi adalah ternyata pengamen ini tidak sendirian, dalam satu kali duduk kita bisa didatangi lebih dari lima pengeman yang rata-rata anak-anak dibawah umur. Wuuuah HIDUP TANPA PENGAMEN BAGAI BUNGA TAK BERKUMBANG
Filed under: Umum

pengamen itu bumbu ibukota gada pengamen ga seru jakarta mereka itu asik ko…
apalagi disa,at bt di bus pengamen dateng itu membuat hidup lebih hidup
Mas Diky
saya juga merasa terhibur dengan adanya pengamen
apa lagi kalau saya jalan-jalan dengan anak saya dia suka sekali dengan pengamen
kalo ada pengamen pasti anak saya ikut tepuk tangan
dan kemarin-kemarin di bis kota menuju Cirebon anak saya minta alat musik yang lagi dipake ngamen dan si pengamen juga memberikannya dengan senang hati dan anak saya memainkannya ikut bergabung dengan mereka
asyik dech
btw,
kunjungi tempat nongkrong saya yang baru
http://lerengasmara.blogspot.com
Ni sapa to yg bikin tulis2an gagagagagagagagagagaaaaaa….. unuk unuk wae or aya aya wae…………… halooo bos ko’ yo sempat nulis sak mene akeh e? Mbok yo sing dibahas tentang perjuangan pengamen yang lebih punya greget. Contohe perjuangan pengamen SPI( serikat pengamen indomesia) . Soale kuwi lebih punya ngeh…… Wes yoooo au g isok suwi soale enek hurusan. Jok ditulak loh pak admin yo ini?Gagagagaaaaaaa suwun pak amin eh salah admin
mau lihat pengamen yang sopan dan tidak lusuh,sekali kali naik aja angkot i2 yang dari kota menuju ke terminal senen,di situ ada pengamennya loh,ramah2 lagi gak di kasih juga gak marah,nyayi lagu juga ampe abis dan gak asal2an uniknya lagi mereka rata2 sopir dan hampir penumpang angkot yang mau ke senen terutama jam 4 sorean dah pada kenal ma mereka,bahkan kalau mereka gak ada para penumpang pada ngeliatin,tapi setelah saya selidiki mereka bukan anak jalanan cuma mengisi waktu luang sambil nunggu panggilan kerja,mereka adanya di lampu merah jalan pintu besi jakarta pusat/dekat pasar baru dan satu arah mau ke golden boutique hotel. saya sempat simpati ma pengamen yang cukup ganteng lah anaknya punya tahi lalat ,wah itu rada cuek tapi nyayi dengan sepenuh hati. sungguhan loh
yang di pintu besi emang sih lumayan sopan,gw jg dah liat sendiri. kan mereka dari bandung wajar sopan,tapi kalau yang lain mah,suka sebel gw,udah kumal,gembel,bau nyayi asal2an,maksa lagi,pokoknya gw gak bakal mau ngasi ma yang kaya gini
di lampu merah matraman ada juga kok pengamen tang baik, gw kalau pulang dari senen ke melayu selalu naik komilet 01 jurusan ke melayu selalu gw tunggu kehadiranya………….beneran loh gw gak boong,kalau dia bukan pengamen mau kali gw jadi pacarnya